Nanopartikel Perak Buatan Alam
Nanopartikel perak memiliki banyak manfaat dalam kehidupan manusia, terutama sebagai agen antifungal (jamur) dan antibakteria sehingga sering digunakan pada industri produk konsumsi. Namun, kehadiran nanopartikel perak tidak hanya di industri semata, tetapi juga di lingkungan terutama lingkungan akuatik. Akhir-akhir ini konsentrasi nanopartikel perak ditemukan meningkat di sehingga menjadi perhatian para ilmuwan lingkungan untuk meneliti lebih lanjut asal dari nanopartikel perak tersebut. Suatu kenyataan yang cukup mengejutkan terungkap: alam dapat membuat nanopartikel perak.
Tim peneliti gabungan dari Florida Institute of Technology (FIT), State University of New York (SUNY), dan National Institute of Standards and Technology (NIST) melaporkan bahwa ion perak dan asam humat (humic acid) dapat membentuk nanopartikel perak yang stabil. Mereka menganalisis sampel sedimen sungai yang diperkirakan mengandung asam humat dengan TEM (transfer electron microscopy) dan mendapatkan bahwa asam humat menyelubungi nanopartikel perak membentuk struktur yang stabil.
Asam humat merupakan campuran kompleks dari banyak asam organik yang terbentuk dari penguraian materi organik. Lewat karakterisasi TEM, terlihat bahwa asam humat menyelubungi nanopartikel perak yang membuatnya stabil karena mencegah kontak nanopartikel perak untuk bergabung dengan partikel perak yang lebih besar. Nanopartikel perak hasil karakterisasi tersebut berwarna coklat kekuningan sebagai konsekuensi dari ukuran partikel perak tersebut. Seluruh nanopartikel logam memiliki karakteristik warna tersendiri karena ukurannya yang sangat kecil (satu nanometer = sepermiliar meter). Efek ini disebut sebagai “resonansi plasma permukaan” yang terjadi akibat osilasi secara serempak elektron-elektron pada permukaan nanopartikel [lihat juga artikel "Mengubah Emas Menjadi Ungu"].
Banyak ahli biologi yang percaya bahwa nanopartikel perak memiliki toksisitas tinggi. Aktivitasnya sebagai agen antifungal dan antibakteria yang baik dikarenakan luas permukaannya yang besar yang menjadikannya sebagai sumber ion perak yang baik. Penemuan ini menjelaskan siklus ion perak di lingkungan menjadi nanopartikel dan juga menjelaskan fenomena kadar nanopartikel perak yang signifikan pada daerah pertambangan tua yang sudah lama tidak dipakai.
Nanoteknologi
Nano adalah satuan panjang sebesar sepertriliun meter (1 nm=10-9m). Ukuran tersebut 1000x lebih kecil dari diameter rambut manusia (80 11/4m). Bahan nano merupakan jembatan antara molekul dan bahan berukuran mikrometer dengan menggunakan skala nanometer, atau sepersemilyar meter, merupakan teknologi berbasis pengelolaan materi berukuran nano atau satu per miliar meter, dan merupakan lompatan teknologi untuk mengubah dunia materi menjadi jauh lebih berharga dari sebelumnya. Ukurannya yang teramat kecil dan mempunyai jumlah luas permukaan yang besar adalah suatu ciri yang unik sehingga ia memiliki sifat toksik akibat dari permukaan yang besar dan berkait rapat. Kajian mendapati kesan toksik yang lebih tinggi bagi partikel nano dibandingkan bagi bahan yang sama pada ukuran yang lebih besar. Perkembangan nanoteknologi dapat meningkatkan nilai tambah pada serat tekstil.
Nanosilver
Nano silver merupakan salah satu produk berbasis nanoteknologi..
Nano silver bersifat anti bakteri dan anti virus akan sangat membantu dalam hal mengatasi berbagai masalah yang bisa ditimbulkan oleh bakteri dan virus. Nano silver ini dalam bentuk colloid Dalam aplikasinya dapat digunakan pada tekstil dengan fungsi khusus, salah satunya adalah sifat antimikroba, untuk menghasilkan produk antimikroba ini dapat dilakukan melalui rekayasa partikel seperti perak dengan ukuran antara 1 hingga 100 nanometer. Perak merupakan logam yang umum digunakan, karena sifat toksiknya rendah terhadap kulit manusia.
Tujuan ion silver dibuat nano karena virus, bakteri dan pathogen adalah partikel yang paling kecil yang hidup dalam organisme biologi. Agar perak dapat bekerja efektif, maka ukuran perak harus lebih kecil dari pada virus, bakteri maupun pathogen lainnya.
Pada prinsipnya cara kerja/degradasi bakteri maupun virus oleh ion silver adalah partikel perak akan merusak dan menembus dinding sel bakteri, kemudian akan masuk kedalam gugus tiol bakteri dan berikatan dengan gugus sulfidril pada bakteri sehingga akan mencegah produksi enzyme pada bakteri. Selanjutnya partikel perak akan menghambat pertumbuhan DNA dan akhirnya bakteri mati.
Ion perak bersifat netral didalam air, tahan asam, garam dan berbasa lemah. Stabilitas yang baik terhadap panas dan cahaya. Memiliki daya anti bakteri yang tahan lama. Semakin kecil ukuran partikel, pengaruh gaya gravitasi semakin dapat diabaikan. Sedangkan peningkatan muatan dan kimia permukaan memungkinkan adanya gaya tolak menolak antar partikel sehingga partikel dapat terdispersi dalam air.
Metode pembuatan Nanopartikel Perak
Banyak metoda yang banyak digunakan untuk memproduksi nano partikel, seperti metoda reduksi kimia, fotokimia, sonokimia dan aerosol.
1. Metoda Reduksi Kimia
Pada metode ini digunakan proses reaksi reduksi pada garam-garam perak seperti perak nitrat, perak sulfat, perak perflorat, dan garam-garam yang mengandung perak lainnya. Metode ini sering digunakan karena alasan kemudahan dan biaya yang relative murah.
.1 Zat yang digunakan
Zat-zat lain yang digunakan untuk pembuatan nano partikel perak yaitu stabilisator, zat pengikat, zat pereduksi, aquades, dan katalis untuk mempercepat reaksi.
Stabilisator dari zat aktif permukaan termasuk zap anionic, zap kationik, zap amfoter, dan nonionic. Stabilisator berfungsi untuk mencegah agregasi dari partikel nano dengan cara membuat lapisan pelindung antara partikel untuk mempersulit pergerakan atom. Penelitian yang telah dilakuakn zat-zat yang sering digunakan sebagai stabilisator pada partikel nano ini adalah sodium deodesil sulfat (SDS), polifinil pirolidon(PVP), polivinil alcohol (PVA), namun zat yang sering digunakan adalah PVP.
Zat pereduksi digunakan untuk mereduksi yang ada pada garam logam menjadi atom, zat –zat pereduksi yang biasa digunakan ialah, natrium borohibrida (NaBH4), hidrazin (N2H4), formaldehd (HCHO), glukosa (C6H12O6.H2O), trisodium sitrat (2Na.C6H5O7.1H2O), dan lain-lain. Perbandingan garam perak dengan zat pereduksi yang digunakan yaitu 1:8.
Zat yang paling sering digunakan yaitu glukosa, karena glukosa merupakan zat reduktor lemah. Katalis digunakan untuk mempercepat reaksi. Zat pereduksi akan bekerja pada suasana alkali. dengan kata lain, penambahan alkali dapat menyelesaikan reaksi dalam waktu jangka pendek. Senyawa yang digunakan umumnya mengandung ion hidroksida (OH) , contoh nya seperti NaOH.
Selanjutnya zat yang digunakan yaitu zat pengikat. Fungsi dari zat ini untuk mengatur konsentrasi ion logam bebas dalam larutan. Seperti halnya stablisator zat ini berfungsi mencegah pembentukan agregasi, sehingga ukran partikel dapat diatur. Zat yang biasa digunakan yaitu urea (CO(NH2)2) karena alasan kemudahan dan biayanya relative murah[3].
1.2 Tahapan proses
Garam perak dialirkan menggunakan mikrofluida dengan kecepatan aliran antara 3 – 10 ml/menit, sedangkan kecepatan alir zat pereduksi sekitar 1 ml/menit pada suhu 0oC. Selanjutnya zat stabilisator dimasukkan dan diaduk pada suhu 10 – 60oC. nanopartikel yang terbentuk pada proses ini akan stabil dalam larutan.
Mekanisme reaksi pembuatan nanopartikel perak dari AgNO3 dengan reduktor trisodium sitrat[2]:
4Ag+ + C6H5O7Na3 + 2H2O ----> 4Ag0 + C6H5O7H3 + 3Na+ + H+ + O2
1.3 Kekurangan dan Kelebihan
Adapun kekurangan dan kelebihan dari metoda reduksi kimia adalah sebagai berikut:
a. Kelebihan:
1. Mudah dilakukan
2. Biaya murah
3. Peralatan sederhana
4. Cocok digunakan untuk skala kecil
5. Partikel yang dihasilkan lebih besar dari 40 nm
b. Kekurangan:
1. Distribusi partikel sulit untuk dikendalikan
2. Membutuhkan banyak zat kimia
3. Polusi cukup tinggi
2. Metoda Foto Kimia
2.1 Fotokatalis
Pembuatan nanopartikel perak dengan menggunakan metoda ini didasari oleh transformasi kimiawi perak klorida pada permukaan kain menjadi logam perak dengan bantuan radiasi tinggi dari sinar UV.
Fotokatalisis (menurut IUPAC) suatu reaksi katalitik yangg melibatkan absorpsi cahaya oleh katalis atau substrat tertentu. Dapat juga didefinisikan sbg suatu proses kombinasi antara fotokimia dan katalis, yaitu suatu proses transfor-masi kimiawi dg melibatkan cahaya sebagai pemicu dan katalis sebagai pemercepat proses transformasi tsb (Serpone, 2002)
2.2 Tahapan Proses
Kain di benam-peras pada larutan yang mengandung perak nitrat, lalu dikeringkan pada suhu 60oC. kemudian benam-peras (80%) kembali pada larutan NaCl dan keringkan kembali. Konsentrasi NaCl pada bak larutan harus diperhitungkan sesuai dengan stoikiometri agar dapat merubah Perak Nitrat menjadi Perak Klorida.
Selanjutnya kain diradiasi dengan kekuatan tinggi selama 24 detik dengan menggunakan radiator UV HF4 – CENARO dengan lampu 2850 W. Dengan radiasi tinggi tersebut dapat menurunkan muatan positif ion logam dan membentuk nanopartikel perak. Hasil dari cara ini bisa mendapatkan perak dengan ukuran 5-30 nm[6].
2.3 Kelebihan dan Kekurangan metoda Fotokimia
a. Kelebihan dari metoda ini adalah :
1. prosesnya cepat dan bisa langsung diaplikasikan pada kain sehingga dapat lebih menghemat waktu dan biaya produksi.
2. Jika kita menghendaki pencelupan warna abu-abu, maka kita dapat mengeliminasi pencelupan tersebut.
3. Dapat dilakukan dengan metoda kontinyu
4. Ketahanan cuci baik.
b. Kelemahan dari metoda ini yaitu:
1. Kain yang telah dicelup akan mengalami perbedaan warna menjadi kearah abu, dimana semakin tinggi konsentrasi perak, perbedaan warna akan semakin tinggi, untuk konsentrasi perak 1% perbedaan warnanya mencapai 47,747. Warna kain menjadi semakin gelap (-L*). Untuk mengantisipasi hal itu, pada proses pencelupan sebaiknya diberi warna hitam agar perbedaan warna tidak terlalu jauh, walaupun hasilnya masih memberikan nilai beda warna sebesar 2,8%.
2. distribusi partikel nano masih besar, yaitu sekitar 77.7 nm – 824,6 nm.
3. Metoda Sonokimia
3.1 Proses Sonokimia
Sonokimia adalah aplikasi ultasonik untuk reaksi dan proses kimiawi. Sonokimia umumnya ditunjukan dalam medium cair. Suara ultra sonic yang digunakan sebesar 20 KHz – 1MHz. Suara ultrasonik yang menjalar didalam medium cair sehingga membentuk gelembung atau rongga (cavity) mikroskopik dengan sangat cepat dan dapat memisahkan ikatan Van der Waals, membutuhkan tenaga 105W/cm2, dilain pihak pada kekuatan 0,3W/cm2 air akan membentuk hydrogen peroksida. Selanjutnya gelembung tersebut akan membesar karena ada difusi dari perak. Pada saat volume maksimum, gelembung-gelembung tersebut akan pecah dan akan meningkatkan temperature menjadi 5000K dengan tekanan 1000 atmosfer dan memiliki kecepatan pemanasan-pendinginan 1010 K/s. Pada keadaan itu ikatan kimia silver akan terlepas menjadi nano partikel. Selama terjadinya gelembung-gelembung, kondisi fisika-kimia suatu reaksi bisa berubah drastis namun suhu medium yang teramati tetaplah dingin karena proses terbentuk dan pecahnya gelembung tadi terjadi dalam skala mikroskopik[8].
3.2 Metoda sonokimia dengan teknik radiasi pada kain
Saat ini banyak dilakukan penelitian metoda disperse sonokimia pada partikel logam oksida pada tekstil. Pada dasarnya metoda ini sama dengan pembuatan partikel nanoperak cara sonokimia standar, yaitu dengan menggunakan radiasi ultrasonic, namun pada metoda ini radiasi dilakukan simultan dengan proses coating pada kain.
Langkah pertama, siapkan larutan etanol-air, kemudian masukkan perak dioksida. Atur pH pada suasana alkali dengan menambahkan larutan ammonia sampai pH 8. Hilangkan sisa CO2/udara dengan menggunakan argon selama 1 jam pada suhu 30oC. Selanjutnya radiasi dengan ultrasonic intensitas tinggi sebesar 20 kHz dengan kekuatan 1,5 kW. Terakhir dilakukan pencucian untuk menghilangkan sisa-sisa ammonia kemudian keringkan dengan udara[7].
3.3 Kekurangan dan Kelebihan
Adapun kekurangan dan kelebihan dari proses sonokimia adalah sebagai berikut:
a. Kelebihan
1. Distribusi ukuran nanaopartikel merata
2. Ukuran nanopartikel dapat dikontrol
3. Warna dan texture kain tidak berubah
4. Pada saat proses radiasi, bakteri yang ada pada kain akan mati
b. Kekurangan
1. Proses radiasi lama minimum 1 jam
2. Peralatan rumit
4. Metoda Aerosol
Metoda lainnya yaitu metoda aerosol. Metoda ini akan mendispersikan partikel perak dalam gas, sehingga muatan pada ion perak akan lebih stabil didalamnya. Zat yang digunakan adalah eminopropiltrietoksilan, AgNO3, air distilasi, dan etanol sebagai carier gas.
4.1 Tahapan Proses
Aminopropilmethoksilan, AgNO3, Air deionisasi, dan ethanol dicampurkan. Kemudian dipanaskan sampai ethanol menguap sehingga membentuk suspense dalam gas. Pada saat pemanasan logam perak akan tereduksi oleh etanol membentuk struktur nano partikel dalam bentuk kerangka matrik silica.
Selanjutnya dilakukan penangkapan partikel, partikel collector di atur pada suhu 80oC untuk menjaga partikel aerosol tetap kering dan mencegah aglomerasi. Komposit nanopartikel dapat terjaga sebagai carrier gas dan terkumpul dalam filter.[10]
4.2 Kekurangan dan Kelebihan
Adapun kekurangan dan kelebihan dari metoda ini adalah sebagai berikut:
a. Kelebihan:
1. Biaya produksi rendah untuk skala produksi yang besar
2. Molekul terdispersi secara monomolekuler
3. Tahap penguapan dan reaksinya dapat dikontrol
4. Prosesnya cepat dan fleksibel
5. Tingkat polusi rendah
6. Ukuran partikel dapat dikontrol dengan mudah
7. Bubuk perak dapat terdispersi dalam air
b. Kekurangan:
1. Peralatan cukup rumit
2. Tidak cocok untuk produksi skala kecil
Kesimpulan
Beberapa metode dalam pembuatan nano partikel perak telah banyak dikembangkan untuk mendapatkan hasil yang baik terhadap ukuran nanopartikel perak ini. Dalam metode pembuatannya dapat digunakan metode reduksi kimia, metode sonokimia, metode fotokimia, dan metode aerosol. Pada beberapa metode ini yang banyak digunakan karena kemudahan dan biayanya yaitu metoda reduksi.
Jumat, 17 Mei 2013
Senin, 08 April 2013
Zat-Zat Berbahaya Pada Kemasan.
Pada zaman yang hampir semua serba instan, dalam kehidupan sehari-hari banyak kita temui makanan yang kita makan terbungkus oleh kemasan dan kemasan tersebut tidak lagi difungsikan sebagai wadah penyimpanan dengan tujuan meberikan kemudahan dan kenyamanan. Namun saat ini nilai estetika ditambakan pada kemasan, sehingga kemasan tampil dengan beragam bentuk, ukuran dan warna. Ada begitu banyak material penyusun dari sebuah kemasan dan tidak semua material tersebut aman bagi tubuh kita. Material-material yang sering digunakan pada kemasan diantaranya adalah:
1. Plastik Jenis-jenis plastik sendiri beraneka ragam dan secara garis besar plastik dapat digolongkan menjadi dua golongan besar, yakni plastik yang bersifat thermoplastic dan yang bersifat thermoset. Thermoplastic dapat dibentuk kembali dengan mudah dan diproses menjadi bentuk lain, sedangkan jenis thermoset bila telah mengeras tidak dapat dilunakkan kembali. Plastik yang paling umum digunakan dalam kehidupan sehari-hari adalah dalam bentuk thermoplastic diantaranya Polyethylene Terephthalate (PET), Oriented Polystyrene (OPP), Low Density Polyethylene (LDPE), High Density Polyethylene (HDPE) dll. Masing-masing jenis plastik mempunyai tingkat bahaya yang berbeda, tergantung material plastik dan bahan kimia penyusunnya. Contoh untuk kemasan berbahan dasar PET adalah dibuat dari resin polyester yang tahan lama, kuat, ringan dan mudah dibentuk ketika panas. kepekatannya adalah sekitar 1,35 – 1,38 gram/cc, ini membuatnya kokoh, rumus molekulnya adalah (-CO-C6H5-CO-O-CH2-CH2-O-)n. Secara umum, plastik tersusun dari polimer rantai panjang dan satuan-satuan yang lebih kecil yang disebut monomer. Bila makanan dibungkus dengan plastik, monomer-monomer ini dapat berpindah ke dalam makanan dan selanjutnya berpindah ke tubuh orang yang mengonsumsinya. Bahan-bahan kimia yang telah masuk ke dalam tubuh ini tidak larut dalam air sehingga tidak dapat dibuang keluar, baik melalui urin maupun feses (kotoran). Perpindahan monomer-monomer plastik ke dalam makanan dipicu oleh beberapa hal, yaitu panas, asam, dan lemak. Semakin tinggi suhu makanan yang dimasukkan ke dalam plastik, semakin cepat terjadi perpindahan ini.
2. Tinta Saat kita membeli kemasan dengan warna menarik tahukan dalam warna tersebut ada zat-zat yang mungkin bisa terkontaminasi pada makanan salah satunya solvent karena penyusun dari tinta tersebut adalah pigmen, resin, additive dan solvent sebagai pelarut. Karena pada saat ini masih jarang kemasan yang menggunakan tinta berbahan dasar air atau sering disebut water based ink. Solvent yang sering digunakan pada kemasan adalah Ethyl Acetate (EA), Toluene (TE), Isoprhopyle Alcohol (IPA) dan Methyl Ethyl Keton (MEK). Bahan kimia tersebut bila terkontaminasi pada makanan cukup berbahaya karena bisa menyebabkan keracunan. Karakteristik solvent yang mudah menguap, mudah terbakar dan berbau tajam sangat mudah bereaksi dengan makanan. Dari keempat jenis solvent tersebut yang paling berbahaya adalah residu dari Toluene karena sulit menguap bila hanya dengan bantuan udara, residu dari toluene pada kemasan hanya akan hilang bila dipanaskan Demikianlah artikel saya semoga bermanfaat dan membeli makanan instan memang praktis, tetapi kritislah dalam mengonsumsinya.
Sumber:
http://pplhpuntondo.org
Kamis, 04 April 2013
SIFAT PERIODIK UNSUR
1. Jari-jari Atom
Jari-jari atom adalah jarak elektron di kulit terluar dari inti atom. Jari-jari atom sulit untuk ditentukan apabila unsur berdiri sendiri tanpa bersenyawa dengan unsur lain. Jari-jari atom secara lazim ditentukan dengan mengukur jarak dua inti atom yang identik yang terikat secara kovalen. Pada penentuan jari-jari atom ini, jari- jari kovalen adalah setengah jarak antara inti dua atom identik yang terikat secara kovalen.Untuk unsur-unsur segolongan, semakin banyak kulit atom, semakin besar jari-jari atom
Untuk unsur-unsur seperiode, semakin besar muatan inti, maka semakin kuat gaya tarik inti terhadap electron, sehingga semakin kecil jari-jarinya
Jadi konsepnya
- Dari atas ke bawah dalam satu golongan, jari-jari atom semakin besar
- Dari kiri ke kanan dalam satu periode, jari-jari atom semakin kecil
Ion mempunyai jari-jari yang berbeda secara nyata (siknifikan) jika dibandingkan dengan jari-jari atom naturalness. Ion positif mempunyai jari-jari yang lebih kecil, sedangkan ion negative mempunyai jari-jari yang lebih besar
2. Energi Ionisasi
Energi ionisasi adalah besarnya energy yang diperlukan untuk melepas satu electron dari suatu elektron netral dalam wujud gas sehingga terbentuk ion berwujud gas dengan muatan +1. Besar kecilnya energy ionisasi bergantung pada besar gaya tarik inti terhadap electron kulit terluar, yaitu electron yang akan dilepaskan. Semakin kuat gaya tarik inti, semakin besar energy ionisasi.Dalam satu golongan, semakin ke bawah dengan bertambahnya kulit atom, jari-jari atom semakin menngkat. Dengan demikian, elektron terluarnya akan semakin lemah tertarik ke inti atom. Hal ini menjadikan elektron kurang kuat terikat dan semakin mudah dilepaskan. Dalam satu periode unsur-unsur memiliki jumlah kulit atom yang sama. Semakin ke kana letak suatu unsur dalam sistem periodik, semakin bertambh jumlah elektron pada kulit terluarnya, yang diikuti dengan bertambahnya jumlah proton pada inti atom, sehingga gaya tarik menarik antara proton dan elektron semakin besar. Akibatnya elektron terluarnya menjadi semakin kuat tertarik oleh inti atom. Hal ini menjadikan elektronnya semakin sulit dilepaskan. Jadi semakin kecil jari-jari atom, potensial ionisasinya semakin besar.
3. Afinitas Elektron
Afinitas elektron adalah energi yang dibebaskan atau yang diserap apabila suatu atom menerima elektron. Jika ion negatif yeng terbentuk bersifat stabil, maka proses
penyerapan elektron itu disertai pelepasan energi dan afinitas
elektronnya dinyatakan dengan tanda negative. Akan tetapi jika ion
negative yang terbentuk tidak stabil, maka proses penyerapan elektron
akan membutuhkan energi dan afinitas elektronnya dinyatakan dengan tanda
positif. Jadi, unsur yang mempunyai afinitas elektron bertanda negatif
mempunyai kecenderungan lebih besar menyerap elektron daripada unsur
yang afinitas elektronnya bertanda positif. Makin negative nilai
afinitas elektron berarti makin besar kecenderungan menyerap elktron.
Dalam satu periode dari kiri ke kanan, jari-jari semkain kecil dangaya tarik inti terhadap elektron semakin besar, maka atom semakin mudah menarik elektron dari luar sehingga afinitas elektron semakin besar.Pada satu golongan dari atas ke bawah, jari-jari atom makin besar, sehingga gaya tarik inti terhadap elektron makin kecil, maka atom semakin sulit menarik elektron dari luar, sehingga afinitas elektron semakin kecil.
4. Keelektronegatifan
Kelektronegatifan adalah kemampuan suatu atom untuk menarik
elektron dari atom lain. Faktor yang mempengaruhi keelektronegatifan
adalah gaya tarik dari inti terhadap elektron dan jari-jari atom.
Unsur-unsur yang segolongan : keelektronegatifan makin ke bawah semakin kecil, karena gaya taik-menarik inti makin lemah. Unsur-unsur bagian bawah dalam sistem periodik cenderung melepaskan elektron.Unsur-unsur yang seperiode : keelektronegatifan semakin ke kanan semakin besar. Keelektronegatifan terbesar pada setiap periode dimiliki oleh golongan VII A (unsur-unsur halogen). Harga kelektronegatifan terbesar terdapat pada flour (F) yakni 4,0, dan harga terkecil terdapat pada fransium (Fr) yakni 0,7.
Harga keelektronegatifan penting untuk menentukan bilangan oksidasi
( biloks ) unsur dalam sutu senyawa. Jika harga kelektronegatifan
besar, berati unsur yang bersangkutan cenderung menerim elektron dan
membentuk bilangan oksidasi negatif. Jika harga keelektronegatifan
kecil, unsur cenderung melepaskan elektron dan membentuk bilangan
oksidasi positif. Jumlah atom yang diikat bergantung pada elektron
valensinya.
Selasa, 26 Maret 2013
KOMPONEN-KOMPONEN MATERI
Komponen-komponen materi ada 3, diantaranya sebagai berikut: 1. MATERI
didefinisikan sebagai kumpulan atom & atom adalah komponen terkecil unsur yang tidak akan mengalami perubahan dalam reaksi kimia. Atom terdiri atas sebuah inti dan electron, dan inti terdiri atas proton dan neutron. Atom terdiri atas beberapa jenis partikel subatom, tiga diantaranya adalah: proton, electron dan neutron
2. MOLEKUL
adalah komponen independen netral terkecil dari materi. Molekul ada 2 yaitu molekul monoatomik dan poliatomik. Ikatan antar atom dalam molekul poliatomik disebut ikatan kovalen.
3. ION
Adalah kelompok atom yang memilki muatan listrik. kation merupakan ion yang memilki muatan positif, sedangkan anion memilki muatan negatif. Tarikan listrik akan timbul antara kation dan anion. Natrium klorida, ion natrium dan ion klorida yang diikat dengan tarikan listrik. tarikan ini disebut ikatan ion.
Langganan:
Postingan (Atom)